Rabu, 23 Juni 2010

Benarkah dajjal telah hadir di masa Rasulullah?

Dajjal telah ada pada masa hidup Nabi Muhammad saw. Tamim Ad-Dari dan beberapa orang temannya pernah melihatnya. Hal itu didasarkan pada hadits tentang adanya makhluk bernama Jassasah berikut ini:

Fatimah binti Qais mengisahkan:”Aku mendengar suara seorang penyeru yang ditugaskan Rasulullah, menyerukan,”Ash-Shalatu Jaami’ah!” Maka aku keluar menuju mesjid, lalu mengikuti shalat bersama Rasulullah. Setelah Rasulullah usai dari shalatnya, beliau duduk di atas mimbar sambil tertawa, lalu bersabda,”Masin-masing supaya berada di tempat shalatnya. Tahukah kalian kenapa aku kumpulkan?” Para sahabat menjawab:”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Rasul bersabda,”Sesungguhnya aku demi Allah, tidaklah mengumpulkan kamu sekalian karena suatu keinginan atau suatu kekhawatiran, tapi karena Tamim Ad-Dari dulunya adalah seorang nasrani, lalu dia datang berbai’at dan masuk Islam. Sesudah itu dia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang sesuai dengan apa yang pernah aku ceritakan kepadamu sekalian mengenai si picak dajjal.

Tamim bercerita kepadaku bahwa dia pernah berlayar di laut dengan sebuah kapal bersama tiga puluh orang temannya dari Lakham dan Judzam. Selama satu bulan mereka dipermainkan ombak di laut. Kemudian berlabuhlah mereka di sebuah pulau di tengah laut. Sampai terbenamnya matahari, mereka tetap duduk di dekat kapal. Barulah sesudah itu mereka memasuki pulau itu. Mereka disambut oleh sesosok makhluk gimbal, berambut lebat. Mereka tidak bisa melihat bagian depan makhluk itu dari belakangnya, karena lebatnya rambut. Mereka menanyainya,”Celakalah kamu, makhluk apa kamu ini?”

Dia menjawab,”Aku Jassasah.”

“Apa itu Jassasah?”tanya mereka pula.

(Tetapi makhluk itu tidak menjawab, dia malah menyarankan), katanya,”Hai orang-orang, pergilah kalian menemui seorang laki-laki dalam biara ini, karena dia benar-benar ingin mendengarkan berita dari kalian.”

Tamim berkata,”Setelah makhluk itu menyebutkan tentang adanya seorang laki-laki, maka kami khawatir jangan-jangan dia setan perempuan.”

Kata Tamim pula,”Maka kami pun cepatcepat pergi sehingga masuklah kami ke sebuah biara. Dan ternyata di sana ada seorang manusia terbesar sepanjang yang pernah kami lihat. Tubuhnya besar sekali dan tenaganya kuat tetapi kedua tangannya dihimpun dengan dengan lehernya, ditekuksampai selangkangan antara kedua lutut dan mata kakinya, dan diikat dengan besi. Kami bertanya,”Celakalah kamu, makhluk apakah kamu ini?”

Dia jawab,”Sesungguhnya kalian telah mendapat berita mengenai diriku, maka beritahulah aku, siapakah kalian ini?”

Mereka menjawab,”Kami adalah orang-orang Arab. Kami berlayar dengan sebuah kapal. Kami telah mengarungi laut ini ketika bergelombang hebat. Selama satu bulan kami dipermainkan ombak, dan akhirnya kami berlabuh di pulaumu. Kemudian kami duduk di dekat kapal, lalu kami masuk ke dalam pulau ini. Tiba-tiba kami bertemu seekor binatang gimbal, berambut lebat. Kami tidak bisa melihat bagian depannya dari belakangnya, karena lebat rambutnya. Maka kami bertanya,”Celakalah kamu, makhluk apakah kamu ini? Dia menjawab,’Aku Jassasah’. Dan dia berkata pula supaya menemui laki-laki yang berada di biara ini.

Tapi tiba-tiba laki-laki itu berkata,”Beritahu aku kebun kurma di Baisan.”

Kami balik bertanya,”Mengenai apanya yang kamu tanyakan?”

“Aku tanyakan kepada kalian tentang pohon-pohon kurmanya, apakah masih berbuah?”

Kami katakan kepadanya,”Ya”

Kemudian dia mengatakan,”Adapun sesungguhnya, tak lama lagi kebun itu tidak akan berbuah.”

Lalu dia bertanya pula,”Beritahu aku mengenai danau Thabariyah.”

Kami balik bertanya,”Mengenai apanya yang kamu tanyakan?”

“Apakah masih ada airnya?” katanya.

Jawab kami serempak,”Airnya banyak.”

Dia berkata,”Sesungguhnya tak lama lagi airnya akan habis.”

Dan dia tanyakan pula,”Beritahu aku mengenai mata air Zughar?”

“Mengenai apanya yang kamu tanyakan?” tanya kami pula.

“Apakah mata air itu masih ada airnya, dan apakah penduduk negeri itu masih bercocok tanam menggunakan air itu?” Tanya dia pula.

Maka kami menjawab,”Airnya banyak, dan penduduk di sana masih bercocok tanam dengan menggunakan air itu.”

Dia bertanya,”Beritahu aku mengenai nabi orang-orang ummi, apa yang dia lakukan?”

Rombongan menjawab,”Sesungguhnya dia telah keluar dari Mekah dan kini tinggal di Yatsrib (madinah).”

“Bagaimana perlakuan dia terhadap mereka?”

Maka kami menjawab bahwa dia telah dapat mengalahkan orang-orang sekitarnya yang terdekat, dan mereka kini mematuhinya.

Maka berkatalah makhluk itu,”Apakah semua itu telah terjadi?”

“Benar,” jawab kami.

Dia berkata,”Adapun sesungguhnya memang sebaiknya mereka mematuhi dia. Dan sesungguhnya aku akan memberitahukan kepadamu sekalian tentang diriku. Sesungguhnya aku adalah dajjal, dan sesungguhnya takkan lama lagi aku akan diizinkan keluar. Di kala itu, maka aku pun keluar dan berjalan di muka bumi. Takkan ada satu kota pun yang aku biarkan, kecuali singgahi selama empat puluh malam, selai mekah dan madinah. Kedua kota itu terlarang bagiku. Setiap aku hendak memasuki salah satu dari kedua kota itu, aku dihadang oleh seorang malaikat yang menggenggam sebilah pedang terhunus. Dia menghalau aku dari kota itu. Dan sesungguhnya pada setiap lorong dari kota itu ada malaikat-malaikat yang menjaganya.”

Rasul bersabda,”Sesungguhnya aku tertarik dengan cerita Tamim itu. Cerita itu benar-benar sesuai dengan apa yang pernah aku ceritakan kepadamu mengenai dajjal itu, dan mengenai madinah dan mekah. Tapi sungguh, perhatikanlah, benarkah dia ada di laut syam atau di laut yaman? Tidak, bahkan (dia datang) dari arah timur. Tapi, kenapakah dia bukan dari arah timur? Kenapa dia bukan dari arah timur?” Demikianlah sabda beliau sambil menunjukdengan tangannya ke timur.

Berdasarkan hadits di atas, bisa kita simpulkan sebagai berikut:

a. Bahwa Tamim pernah melihat dajjal sebelum masuk Islam.

b. Dajjal telah ada pada masa Rasulullah. Dia di penjara di sebuah biara dan akan keluar tak lama lagi bila diizinkan keluar.

c. Ada kemungkinan biara tersebut ada di Isfahan, dimana dajjal akan keluar di akhir zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar